Gunung Toba gunung api raksasa

19 September 2009 oleh endhy

Gunung Toba adalah gunung api raksasa yaitu gunung aktif dalam kategori sangat besar, diperkirakan meletus terakhir sekitar 74.000 tahun lalu menyisakan sebuah danau yaitu Danau Toba, Sumatera Utara, Indonesia sebagai kaldera terbesar di dunia.

Bukti ilmiah

Pada tahun 1939, geolog Belanda Van Bemmelen melaporkan, Danau Toba, yang panjangnya 100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, dikelilingi oleh batu apung peninggalan dari letusan gunung. Karena itu, Van Bemmelen menyimpulkan, Toba adalah sebuah gunung berapi. Belakangan, beberapa peneliti lain menemukan debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan Toba di Malaysia, bahkan juga sejauh 3.000 kilometer ke utara hingga India Tengah.

Beberapa ahli kelautan pun melaporkan telah menemukan jejak-jejak batuan Toba di Samudra Hindia dan Teluk Benggala. Para peneliti awal, Van Bemmelen juga Aldiss dan Ghazali (1984) telah menduga Toba tercipta lewat sebuah letusan mahadahsyat. Namun peneliti lain, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), serta Nishimura (1984), menduga kaldera itu tercipta lewat beberapa kali letusan. Peneliti lebih baru, Knight dan sejawatnya (1986) serta Chesner dan Rose (1991), memberikan perkiraan lebih detail: kaldera Toba tercipta lewat tiga letusan raksasa.

Penelitian seputar Toba belum berakhir hingga kini. Jadi, masih banyak misteri di balik raksasa yang sedang tidur itu. Salah satu peneliti Toba angkatan terbaru itu adalah Fauzi dari Indonesia, seismolog pada Badan Meteorologi dan Geofisika. Sarjana fisika dari Universitas Indonesia lulusan 1985 ini berhasil meraih gelar doktor dari Renssealer Polytechnic Institute, New York, pada 1998, untuk penelitiannya mengenai Toba.
Berada di tiga lempeng tektonik

Letak Gunung Toba (kini: Danau Toba), di Indonesia memang rawan bencana. Hal ini terkait dengan posisi Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, terletak di lempeng Eurasia, yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Banda.

Lempeng benua ini hidup, setiap tahunnya mereka bergeser atau menumbuk lempeng lainnya dengan jarak tertentu. Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng benua selalu jadi sasaran. Lempeng Indo-Australia misalnya menumbuk lempeng Eurasia sejauh 7 cm per tahun. Atau Lempeng Pasifik yang bergeser secara relatif terhadap lempeng Eurasia sejauh 11 cm per tahun. Dari pergeseran itu, muncullah rangkaian gunung, termasuk gunung berapi Toba.

Jika ada tumbukan, lempeng lautan yang mengandung lapisan sedimen menyusup di bawahnya lempeng benua. Proses ini lantas dinamakan subduksi atau penyusupan.

Gunung hasil subduksi, salah satunya Gunung Toba. Meski sekarang tak lagi berbentuk gunung, sisa-sisa kedasahyatan letusannya masih tampak hingga saat ini. Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk akibat meletusnya Gunung Toba sekitar tiga kali yang pertama 840 juta tahun lalu dan yang terakhir 74.000 tahun lalu. Bagian yang terlempar akibat letusan itu mencapai luas 100 km x 30 km persegi. Daerah yang tersisa kemudian membentuk kaldera. Di tengahnya kemudian muncul Pulau Samosir.
Letusan

Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali.

* Letusan pertama terjadi sekitar 840 juta tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.
* Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 juta tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dashyat.
* Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.

Gunung Toba ini tergolong Supervolcano. Hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong magma yang besar yang jika meletus kalderanya besar sekali. Volcano kalderanya ratusan meter, sedangkan Supervolacano itu puluhan kilometer.

Yang menarik adalah terjadinya anomali gravitasi di Toba. Menurut hukum gravitasi, antara satu tempat dengan lainnya akan memiliki gaya tarik bumi sama bila mempunyai massa, ketinggian dan kerelatifan yang sama. Jika ada materi yang lain berada di situ dengan massa berbeda, maka gaya tariknya berbeda. Bayangkan gunung meletus. Banyak materi yang keluar, artinya kehilangan massa dan gaya tariknya berkurang. Lalu yang terjadi up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.

Magma yang di bawah itu terus mendesak ke atas, pelan-pelan. Dia sudah tidak punya daya untuk meletus. Gerakan ini berusaha untuk menyesuaikan ke normal gravitasi. Ini terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Hanya Samosir yang terangkat karena daerah itu yang terlemah. Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera.

Danau Toba Terbentuk Dari Letusan Gunung Api Raksasa

Danau Toba Terbentuk Dari Letusan Gunung Api Raksasa

Kronologi Letusan Gunung Tambora Terbesar di Sejarah

19 September 2009 oleh endhy

Daerah yang diperkirakan terkena abu letusan Tambora tahun 1815. Daerah merah menunjukan ketebalan abu vulkanik. Abu tersebut mencapai pulau Kalimantan dan Sulawesi (ketebalan 1 cm).

Gunung Tambora mengalami ketidakaktifan selama beberapa abad sebelum tahun 1815, dikenal dengan nama gunung berapi “tidur”, yang merupakan hasil dari pendinginan hydrous magma di dalam dapur magma yang tertutup. Didalam dapur magma dalam kedalaman sekitar 1,5-4,5 km, larutan padat dari cairan magma bertekanan tinggi terbentuk pada saat pendinginan dan kristalisasi magma. Tekanan di kamar makma sekitar 4-5 kbar muncul dan temperatur sebesar 700 °C-850 °C.

Pada tahun 1812, kaldera gunung Tambora mulai bergemuruh dan menghasilkan awan hitam. Pada tanggal 5 April 1815, erupsi terjadi, diikuti dengan suara guruh yang terdengar di Makassar, Sulawesi (380 km dari gunung Tambora), Batavia (kini Jakarta) di pulau Jawa (1.260 km dari gunung Tambora), dan Ternate di Maluku (1400 km dari gunung Tambora). Suara guruh ini terdengar sampai ke pulau Sumatera pada tanggal 10-11 April 1815 (lebih dari 2.600 km dari gunung Tambora) yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan. Pada pagi hari tanggal 6 April 1815, abu vulkanik mulai jatuh di Jawa Timur dengan suara guruh terdengar sampai tanggal 10 April 1815.

Pada pukul 7:00 malam tanggal 10 April, letusan gunung ini semakin kuat. Tiga lajur api terpancar dan bergabung. Seluruh pegunungan berubah menjadi aliran besar api. Batuan apung dengan diameter 20 cm mulai menghujani pada pukul 8:00 malam, diikuti dengan abu pada pukul 9:00-10:00 malam. Aliran piroklastik panas mengalir turun menuju laut di seluruh sisi semenanjung, memusnahkan desa Tambora. Ledakan besar terdengar sampai sore tanggal 11 April. Abu menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bau “nitrat” tercium di Batavia dan hujan besar yang disertai dengan abu tefrit jatuh, akhirnya reda antara tangal 11 dan 17 April 1815.

Letusan pertama terdengar di pulau ini pada sore hari tanggal 5 April, mereka menyadarinya setiap seperempat jam, dan terus berlanjut dengan jarak waktu sampai hari selanjutnya. Suaranya, pada contoh pertama, hampir dianggap suara meriam; sangat banyak sehingga sebuah detasemen tentara bergerak dari Djocjocarta, dengan perkiraan bahwa pos terdekat diserang, dan sepanjang pesisir, perahu-perahu dikirimkan pada dua kesempatan dalam pencarian sebuah kapal yang semestinya berada dalam keadaan darurat.

Letusan tersebut masuk dalam skala tujuh pada skala Volcanic Explosivity Index. Letusan ini empat kali lebih kuat daripada letusan gunung Krakatau tahun 1883. Diperkirakan 100 km³ piroklastik trakiandesit dikeluarkan, dengan perkiraan massa 1,4×1014 kg. Hal ini meninggalkan kaldera dengan ukuran 6-7 km dan kedalaman 600-700 m. Massa jenis abu yang jatuh di Makassar sebesar 636 kg/m². Sebelum letusan, gunung Tambora memiliki ketinggian kira-kira 4.300 m, salah satu puncak tertinggi di Indonesia. Setelah letusan, tinggi gunung ini hanya setinggi 2.851 m.

Letusan Tambora tahun 1815 adalah letusan terbesar di sejarah. Letusan gunung ini terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh setidaknya sejauh 1.300 km. Kegelapan terlihat sejauh 600 km dari puncak gunung selama lebih dari dua hari. Aliran piroklastik menyebar setidaknya 20 km dari puncak. (sumber wikipedia)

Ketebalan Abu Vulkanik

Ketebalan Abu Vulkanik

Effects of breakfast meal composition on second meal metabolic responses in adults with Type 2 diabetes mellitus.

4 Februari 2008 oleh endhy

OBJECTIVE: We tested the relative importance of a low-glycemic response versus a high glycemic response breakfast meal on postprandial serum glucose, insulin and free fatty acid (FFA) responses after consumption of a standardized mid-day meal in adult individuals with Type 2 diabetes mellitus (DM). DESIGN: Following an overnight fast of 8-10 h, a randomized crossover intervention using control and test meals was conducted over a 3-week-period. A fasting baseline measurement and postprandial measurements at various time intervals after the breakfast and mid-day meal were taken. SUBJECTS: Forty-five Type 2 DM subjects completed the requirements and were included in the study results. INTERVENTIONS: Two different breakfast meals were administered during the intervention: (A) a high glycemic load breakfast meal consisting of farina (kJ 1833; carbohydrate (CHO) 78 g and psylium soluble fiber 0 g), (B) a low-glycemic load breakfast meal consisting of a fiber-loop cereal (kJ 1515; CHO 62 g and psyllium soluble fiber 6.6 g). A standardized lunch was provided approximately 4 h after breakfast. Blood plasma concentrations and area under the curve (AUC) values for glucose, insulin and FFA were measured in response to the breakfast and mid-day lunch. Statistical analyses were performed using SAS software (8.02). Comparisons between diets were based on adjusted Bonferroni t-tests. RESULTS: In post-breakfast analyses, Breakfast B had significantly lower area under the curve (AUC) values for plasma glucose and insulin compared to Breakfast A (P<0.05) (95% confidence level). The AUC values for FFA were higher for Breakfast B than for Breakfast A (P<0.05) (95% confidence level). Post-lunch analyses indicated similar glucose responses for the two breakfast types. Insulin AUC values for Breakfasts B were significantly lower than Breakfast A (P<0.05) (95% confidence level). The AUC values for FFA were unaffected by breakfast type. CONCLUSIONS: These data indicate that ingesting a low-glycemic load meal containing psyllium soluble fiber at breakfast significantly improves the breakfast postprandial glycemic, insulinemic and FFA responses in adults with Type 2 DM. These data revealed no residual postprandial effect of the psyllium soluble fiber breakfast meal beyond the second meal consumed. Thus, there was no evidence of an improvement postprandially in the glycemic, insulinemic and FFA responses after the consumption of the lunch meal. Published online 3 May 2006.

PMID: 16670695 [PubMed - indexed for MEDLINE]

Aqueous extracts of husks of Plantago ovata reduce hyperglycaemia in type 1 and type 2 diabetes by inhibition of intestinal glucose absorption.

4 Februari 2008 oleh endhy

Plantago ovata has been reported to reduce postprandial glucose concentrations in diabetic patients. In the present study, the efficacy and possible modes of action of hot-water extracts of husk of P. ovata were evaluated. The administration of P. ovata (0.5 g/kg body weight) significantly improved glucose tolerance in normal, type 1 and type 2 diabetic rat models. When the extract was administered orally with sucrose solution, it suppressed postprandial blood glucose and retarded small intestinal absorption without inducing the influx of sucrose into the large intestine. The extract significantly reduced glucose absorption in the gut during in situ perfusion of small intestine in non-diabetic rats. In 28 d chronic feeding studies in type 2 diabetic rat models, the extract reduced serum atherogenic lipids and NEFA but had no effect on plasma insulin and total antioxidant status. No effect of the extract was evident on intestinal disaccharidase activity. Furthermore, the extract did not stimulate insulin secretion in perfused rat pancreas, isolated rat islets or clonal beta cells. Neither did the extract affect glucose transport in 3T3 adipocytes. In conclusion, aqueous extracts of P. ovata reduce hyperglycaemia in diabetes via inhibition of intestinal glucose absorption and enhancement of motility. These attributes indicate that P. ovata may be a useful source of active components to provide new opportunities for diabetes therapy.

Stemming bahasa inggris porter stemmer

9 Januari 2008 oleh endhy

Mungkin banyak yang bingung dalam membuat program di text mining terutama buat stemmingnya, berikut ini source code porter stemmer yang menggunakan php

<?php
/**
* Copyright (c) 2005 Richard Heyes (http://www.phpguru.org/)
*
* All rights reserved.
*
* This script is free software.
* PHP5 Implementation of the Porter Stemmer algorithm. Certain elements
* were borrowed from the (broken) implementation by Jon Abernathy.
*
* Usage:
*
* $stem = PorterStemmer::Stem($word);
*
* How easy is that?
*/

class PorterStemmer
{
/**
* Regex for matching a consonant
* @var string
*/
private static $regex_consonant = ‘(?:[bcdfghjklmnpqrstvwxz]|(?<=[aeiou])y|^y)’;

/**
* Regex for matching a vowel
* @var string
*/
private static $regex_vowel = ‘(?:[aeiou]|(?<![aeiou])y)’;

/**
* Stems a word. Simple huh?
*
* @param string $word Word to stem
* @return string Stemmed word
*/
public static function Stem($word)
{
if (strlen($word) <= 2) {
return $word;
}

$word = self::step1ab($word);
$word = self::step1c($word);
$word = self::step2($word);
$word = self::step3($word);
$word = self::step4($word);
$word = self::step5($word);

return $word;
}

/**
* Step 1
*/
private static function step1ab($word)
{
// Part a
if (substr($word, -1) == ’s’) {

self::replace($word, ’sses’, ’ss’)
OR self::replace($word, ‘ies’, ‘i’)
OR self::replace($word, ’ss’, ’ss’)
OR self::replace($word, ’s’, ”);
}

// Part b
if (substr($word, -2, 1) != ‘e’ OR !self::replace($word, ‘eed’, ‘ee’, 0)) { // First rule
$v = self::$regex_vowel;

// ing and ed
if ( preg_match(“#$v+#”, substr($word, 0, -3)) && self::replace($word, ‘ing’, ”)
OR preg_match(“#$v+#”, substr($word, 0, -2)) && self::replace($word, ‘ed’, ”)) { // Note use of && and OR, for precedence reasons

// If one of above two test successful
if ( !self::replace($word, ‘at’, ‘ate’)
AND !self::replace($word, ‘bl’, ‘ble’)
AND !self::replace($word, ‘iz’, ‘ize’)) {

// Double consonant ending
if ( self::doubleConsonant($word)
AND substr($word, -2) != ‘ll’
AND substr($word, -2) != ’ss’
AND substr($word, -2) != ‘zz’) {

$word = substr($word, 0, -1);

} else if (self::m($word) == 1 AND self::cvc($word)) {
$word .= ‘e’;
}
}
}
}

return $word;
}

/**
* Step 1c
*
* @param string $word Word to stem
*/
private static function step1c($word)
{
$v = self::$regex_vowel;

if (substr($word, -1) == ‘y’ && preg_match(“#$v+#”, substr($word, 0, -1))) {
self::replace($word, ‘y’, ‘i’);
}

return $word;
}

/**
* Step 2
*
* @param string $word Word to stem
*/
private static function step2($word)
{
switch (substr($word, -2, 1)) {
case ‘a’:
self::replace($word, ‘ational’, ‘ate’, 0)
OR self::replace($word, ‘tional’, ‘tion’, 0);
break;

case ‘c’:
self::replace($word, ‘enci’, ‘ence’, 0)
OR self::replace($word, ‘anci’, ‘ance’, 0);
break;

case ‘e’:
self::replace($word, ‘izer’, ‘ize’, 0);
break;

case ‘g’:
self::replace($word, ‘logi’, ‘log’, 0);
break;

case ‘l’:
self::replace($word, ‘entli’, ‘ent’, 0)
OR self::replace($word, ‘ousli’, ‘ous’, 0)
OR self::replace($word, ‘alli’, ‘al’, 0)
OR self::replace($word, ‘bli’, ‘ble’, 0)
OR self::replace($word, ‘eli’, ‘e’, 0);
break;

case ‘o’:
self::replace($word, ‘ization’, ‘ize’, 0)
OR self::replace($word, ‘ation’, ‘ate’, 0)
OR self::replace($word, ‘ator’, ‘ate’, 0);
break;

case ’s’:
self::replace($word, ‘iveness’, ‘ive’, 0)
OR self::replace($word, ‘fulness’, ‘ful’, 0)
OR self::replace($word, ‘ousness’, ‘ous’, 0)
OR self::replace($word, ‘alism’, ‘al’, 0);
break;

case ‘t’:
self::replace($word, ‘biliti’, ‘ble’, 0)
OR self::replace($word, ‘aliti’, ‘al’, 0)
OR self::replace($word, ‘iviti’, ‘ive’, 0);
break;
}

return $word;
}

/**
* Step 3
*
* @param string $word String to stem
*/
private static function step3($word)
{
switch (substr($word, -2, 1)) {
case ‘a’:
self::replace($word, ‘ical’, ‘ic’, 0);
break;

case ’s’:
self::replace($word, ‘ness’, ”, 0);
break;

case ‘t’:
self::replace($word, ‘icate’, ‘ic’, 0)
OR self::replace($word, ‘iciti’, ‘ic’, 0);
break;

case ‘u’:
self::replace($word, ‘ful’, ”, 0);
break;

case ‘v’:
self::replace($word, ‘ative’, ”, 0);
break;

case ‘z’:
self::replace($word, ‘alize’, ‘al’, 0);
break;
}

return $word;
}

/**
* Step 4
*
* @param string $word Word to stem
*/
private static function step4($word)
{
switch (substr($word, -2, 1)) {
case ‘a’:
self::replace($word, ‘al’, ”, 1);
break;

case ‘c’:
self::replace($word, ‘ance’, ”, 1)
OR self::replace($word, ‘ence’, ”, 1);
break;

case ‘e’:
self::replace($word, ‘er’, ”, 1);
break;

case ‘i’:
self::replace($word, ‘ic’, ”, 1);
break;

case ‘l’:
self::replace($word, ‘able’, ”, 1)
OR self::replace($word, ‘ible’, ”, 1);
break;

case ‘n’:
self::replace($word, ‘ant’, ”, 1)
OR self::replace($word, ‘ement’, ”, 1)
OR self::replace($word, ‘ment’, ”, 1)
OR self::replace($word, ‘ent’, ”, 1);
break;

case ‘o’:
if (substr($word, -4) == ‘tion’ OR substr($word, -4) == ’sion’) {
self::replace($word, ‘ion’, ”, 1);
} else {
self::replace($word, ‘ou’, ”, 1);
}
break;

case ’s’:
self::replace($word, ‘ism’, ”, 1);
break;

case ‘t’:
self::replace($word, ‘ate’, ”, 1)
OR self::replace($word, ‘iti’, ”, 1);
break;

case ‘u’:
self::replace($word, ‘ous’, ”, 1);
break;

case ‘v’:
self::replace($word, ‘ive’, ”, 1);
break;

case ‘z’:
self::replace($word, ‘ize’, ”, 1);
break;
}

return $word;
}

/**
* Step 5
*
* @param string $word Word to stem
*/
private static function step5($word)
{
// Part a
if (substr($word, -1) == ‘e’) {
if (self::m(substr($word, 0, -1)) > 1) {
self::replace($word, ‘e’, ”);

} else if (self::m(substr($word, 0, -1)) == 1) {

if (!self::cvc(substr($word, 0, -1))) {
self::replace($word, ‘e’, ”);
}
}
}

// Part b
if (self::m($word) > 1 AND self::doubleConsonant($word) AND substr($word, -1) == ‘l’) {
$word = substr($word, 0, -1);
}

return $word;
}

/**
* Replaces the first string with the second, at the end of the string. If third
* arg is given, then the preceding string must match that m count at least.
*
* @param string $str String to check
* @param string $check Ending to check for
* @param string $repl Replacement string
* @param int $m Optional minimum number of m() to meet
* @return bool Whether the $check string was at the end
* of the $str string. True does not necessarily mean
* that it was replaced.
*/
private static function replace(&$str, $check, $repl, $m = null)
{
$len = 0 – strlen($check);

if (substr($str, $len) == $check) {
$substr = substr($str, 0, $len);
if (is_null($m) OR self::m($substr) > $m) {
$str = $substr . $repl;
}

return true;
}

return false;
}

/**
* What, you mean it’s not obvious from the name?
*
* m() measures the number of consonant sequences in $str. if c is
* a consonant sequence and v a vowel sequence, and <..> indicates arbitrary
* presence,
*
* <c><v> gives 0
* <c>vc<v> gives 1
* <c>vcvc<v> gives 2
* <c>vcvcvc<v> gives 3
*
* @param string $str The string to return the m count for
* @return int The m count
*/
private static function m($str)
{
$c = self::$regex_consonant;
$v = self::$regex_vowel;

$str = preg_replace(“#^$c+#”, ”, $str);
$str = preg_replace(“#$v+$#”, ”, $str);

preg_match_all(“#($v+$c+)#”, $str, $matches);

return count($matches[1]);
}

/**
* Returns true/false as to whether the given string contains two
* of the same consonant next to each other at the end of the string.
*
* @param string $str String to check
* @return bool Result
*/
private static function doubleConsonant($str)
{
$c = self::$regex_consonant;

return preg_match(“#$c{2}$#”, $str, $matches) AND $matches[0]{0} == $matches[0]{1};
}

/**
* Checks for ending CVC sequence where second C is not W, X or Y
*
* @param string $str String to check
* @return bool Result
*/
private static function cvc($str)
{
$c = self::$regex_consonant;
$v = self::$regex_vowel;

return preg_match(“#($c$v$c)$#”, $str, $matches)
AND strlen($matches[1]) == 3
AND $matches[1]{2} != ‘w’
AND $matches[1]{2} != ‘x’
AND $matches[1]{2} != ‘y’;
}
}
?>

Sejarah Suriname Sejarahing Wong Jawa ing Suriname

9 Januari 2008 oleh endhy

Ananing wong Jawa ing Suriname iki ora bisa diculke karo ananing perkebunan-perkebunan sing dibuka ning kana. Samubare ora olehe perbudakan ning kana, lan wong-wong turunan Afrika dibebaske saka perbudakan. Ing pamungkasing 1800an Walanda mulai nekakake para kuli kontrak asal Jawa, India lan Cina. Wong Jawa pramilane dipanggonake ing Suriname taun 1880an lan dipekerjakake ing perkebunan gula lan kayu sing akeh ing tlatah Suriname.
Wong Jawa teka ing Suriname nganggo akeh cara, nanging akeh sing dipaksa utawa diculik saka dhesa-dhesa. Ora cuma wong Jawa sing digawa, nanging ya akeh wong-wong saka Sunda, Batak, lan liyan tlatah sing keturunane dadi Jawa kabeh ning kana.
Wong Jawa nyebar ing saindhenging tlatah Suriname, nganti ana dhesa jenenge Tamanredjo lan Tamansari, ana maneh sing ngumpul ing Marienburg. Wong Jawa Suriname sejatine tansah ana janji ing Tanah Jawa sanajan urip adoh dipisahke karo samudra, iku sebabe Basa Jawa panggah lestari ing tlatah Suriname. Weruh Indonesia wis mardika, akeh wong Jawa sing ndhuwe arep balik ning Indonesia, lan mung sithik sing bener-bener isa balik, iku wae malahan ing tanah Sumatera lan tlatah-tlatah Indonesia liyane. Lajeng, ing taun 1975 wayah Suriname mardika saka Walanda, wong-wong kalebu wong Jawa diwenehi pilihan, panggah ing Suriname utawa melu pindah ing Walanda. Akeh wong Jawa sing akhire pindah ing tanah Walanda, lan liyane panggah ing Suriname. Rata-rata wong Jawa Suriname iku agamane Islam, sanajan ana sing melu agama liyane nanging sethithik.
Sing unik ing wong Jawa Suriname iki, ora oleh rabi karo anak putune wong sa’kapal utawa sa’ jaji. Dadi wong sa’kapal sing digawa nang Suriname iku wis dianggep pasedhuluran lan anak putune ora oleh dirabi.
Wong Jawa Suriname cacahe nganti 15 persene wong Suriname.

http://jv.wikipedia.org/wiki/Suriname#Sejarah_Suriname

Katrangan:
Waosan menika ngandharaken bab wong Jawa urip ning Suriname, waosan menika kalebet jenising argumentasi deduksi inggih menika metode penalaran preposisi ingkang dipun mbangun mboten kalih pemahaman ingkang intuitif lan mboten ugi saking observasi data ingkang langsung naging saking preposisi ingkang sampun wonten.

Rara Mendut-Pranacitra Iku Dongeng Apa Nyata

9 Januari 2008 oleh endhy

Dongeng Rara Mendut-Pranacitra tekan seprene isih dadi lakon kethoprak sing nengsemake. Sing dadi pitakone wong akeh, lelakon sing mirip Romeo-Juliet iku kedadeyan tenan apa mung khayalane para pujangga jaman Mataram Sultan Agungan? Ana kang kandha jare iku mung dongeng sanepan. Kedadeyane nyata nanging para paragane digawe wadi (jalaran Rara Mendut lan Pranacitra iku isih krabat ratu). Pak Iman Sobro, jurukunci kuburane Rara Mendut ing Gandhu, Sendhangtirta, Berbah, nalika sugenge uga ngendika menawa panjenengane ora percaya yen Rara Mendut iku mung wong pidak pedarakan (wong cilik). Mesthi isih trahe ratu. Ana maneh kang duwe panduga menawa Rara Mendut iku mula ana tenan, dadi selire Tumenggung Wiraguna.
Dene kang aran Pranacitra iku mung jeneng silihan. Tenane bedhangane Rara Mendut iku putra mahkota kang ing tembe dadi Amangkurat Agung (Seda Tegalarum). Dene kang dikubur bareng Rara Mendut iku abdine putra raja mau. Ana babad mula dicritakake nalika putra mahkota kuwi njupuk selire Wiraguna, kabeh abdine diukum pati. Putra mahkota iki dibuwang menyang Alas Lipura. Kanggo nutupi lingseme Kangjeng Sultan Agung, jenazahe Rara Mendut dikantheni abdine putra mahkota. Sing marakake kodhenge para ahli sejarah, kok makame Rara Mendut iku ana telu. Sing siji ing Gandhu, sijine ana Kajor Wetan, Kelurahan Selapamiara, Imogiri, sijine maneh ana Desa Blambangan, Kelurahan Jagatirta Berbah, Sleman. Sing aneh maneh, sadurunge dilarang ing taun 1965, pejiarah sing kepingin kasil panyuwune kudu nindakake saresmi (hubungan sex) karo pasangan sing dudu muhrime. Kapercayan iku anane mung ing makam Gandhu.
Makam tetelune duwe dongeng turun-tumurum sing meh padha. Yaiku sabubare Pati ditelukake (taun 1627) Tumenggung Wiraguna oleh putri boyongan ayu rupane, jenenge Rara Mendut. Kanggo ngisi wektune garwa selir tumenggung iki diwenehi kebebasan dodol rokok “ndika” (rokok sampeyan). Ndilalah ana jaka bagus kang senengane dolan-dolan tanpa tujuwan. Ing dalem katumenggungan weruh Rara Mendut sanalika “jatuh cinta”. Wong loro mau padha pepasihan. Nuju sawijine dina kekarone duwe tekad mlayu saka katumenggungan. Playune mengidul. Lagi arep nyabrang Kali Oya ing Desa Dogongan ketungka tekane prajurite Wiraguna. Wong loro banjur diaturake marang Wiraguna. Saiba dukane senapati kang wis tuwuk kridhaning perang iki. Masiya Pranacitra wis nyuwun ngapura lan ndheprok ana sikile Wiraguna, nanging ora bisa nyabarake atine. Pranacitra dikon lunga. Lagi entuk rong jangkah Wiraguna kelingan yen harga dirine disewiyah. Pranacitra disuduk saka buri tembus dhadha.
Rara Mendut kang nyekseni kedadeyan iki banjur nubruk kekasihe. Ora wurung keris kang tembus jajane Pranacitra uga nyubles dhadhane Rara Mendut. Sakala padha uga palastra. Kangjeng Sultan Agung nalika midhanget prastawa iki banget trenyuhe. Panjenengane banjur dhawuh supaya kekarone dikubur ana bumi gadhuhan tunggal saluwang. Kuburan Gandhu iki saiki dijaga karo Pak Bachroen (65), pensiunan guru SMP Muhammadiyah Putri Ngayogya. Makam iki sanadyan terbuka siang malam nanging ora kena diinepi. Nitik saka tilase kembang lan bakaran menyan, makam Gandhu iki kerep disambangi peziarah. Sing akeh, asale saka jaba Yogyakarta. Ature: Suwarsono L. JB 31/LX, 2 April – April 2006. http://jayabaya.wordpress.com

Katrangan:
Waosan menika kalebet jenising karangan argumentasi analogi inggih menika cara nggayuh kesimpulan ingkang adhedasar kalian perbandingan utawi persamaan. Kesimpulan ingkang kasifat analogi dereng mesthi leres, wonten konteks wacanan menika argumen saged yakinaken pemaos saget percaya napa boten kalian cerita Rara Mendut-Pranacitra.

Lelakone Mbok Jebrag

9 Januari 2008 oleh endhy

Warga Desa Banaran, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, yen ditakoni sapa kuwi Mbok Jebrag mesthi akeh sing padha ngerti. Luwih-luwih wong asli kono sing urip ing taun 1960-an. Nganti saiki Mbok Jebrag isih kerep dadi crita. Lelakone durung ilang saka angen-angene wong akeh. Sejatine wanita sing umure 75 taun kuwi jenenge Mariyem. Kira-kira taun 1950-an nganti taun 1965-an tansah dadi pocapane wong lanang-lanang ing sakiwa-tengen desane, ora perduli cah enom apa wong tuwa. Jaman semana prasasat ora ana wong lanang sing ora kesengsem karo ayuning rupane. Pawakane lencir dhuwur, kulite kuning mrusuh, irunge ngrungih, lambe tipis, yen mesem ajeg mencutake wong lanang. Critane wong tuwa-tuwa kasebut dibenerake Mbok Miatun (70), adhine Mariyem. Ngakoni manawa mbakyune kuwi rikala jaman enome pancen dadi kembang desa. “Ning emane mbakyuku kuwi ora kuwat drajad.
Senadyan rupane ayu lan pawakane sampurna, ananging kurang kuwat imane. Kaping enem rabi isih kanggo rebutan wong lanang,” kandhane Mbok Miatun sing dibenerake dening Mbah Kaelan, bojone. Taun 1950-an Mariyem utawa Jebrag kuwi wis omah-omah. Dirabi dening jaka tangga desa sing jenenge Slamet. Sejatine anggone mbangun bale wisma wis mapan kepenak lan ayem tentrem. Dheweke dodolan panganan mateng lan diyasakake omah dening sing lanang ana cedhake wong tuwane si Slamet. Ndilalah nganti sawetara wektu anggone omah-omah durung duwe anak. Anggone bukak warung panganan mateng larise ora jamak. Ora maido lha wong sing dodol ayu tenan. Dene Slamet pakaryane tani lan srabutan liyane. Anggone dodolan mau asile uga lumayan. Wiwit iku dheweke mbukak petualangan urip sing anyar. Salah sijine wong lanang sing dadi langganan warunge, pawongane pideksa, bregas, tumpakane sepedha merek Gazelle kasil njiret atine. Slamet, bojone, kudu nglilakake Jebrag sing banget ditresnani iku dirabi wong lanang liya.
Nalika semana wewengkon Trenggalek alase isih ketel. Mula mandor alas tumekane sinder prasasat dadi wong kinurmat. Wektu semana sing dadi sinder priyayi saka Pare jenenge Pak Sis. Sinder alas sing kulina turne turut desa-desa wusanane kepethuk karo Mariyem. Pak Sinder kayungyun gandrung kapirangu. Diglenak-glenik wusanane wong wedok sing wis rabi ping pindho iku gelem dipek bojo. “Pak Sinder kuwi senadyan umure wis rada tuwa nanging tresnane karo mbakyuku jian kepati-pati. Prasasat apa sing dijaluk mesthi dituruti. Jaman semana mbakyuku sugih. Dheweke dening Pak Sinder diyasakake omah gedhong loro. Uga ditukokake lemah lan sawah. Uga digawekake pabrik tahu. Senadyan Mariyem dilulu bandha dening sing lanang ananging bojo tuwane Pak Sinder ora tau serik babarpisan. Wis nglenggana apa anane,” ngono kandhane Mbok Miatun nyritakake lelakone mbakyune. Dhasar wis dadi garising urip. Senadyan urip mulya dadi bojone “ndara” lan kinubeng bandha, sajake uripe Mariyem wiwit kasepen. Pak Sinder kerep tilik mulih mbok tuwa menyang Pare.
Bab kuwi sing ndadekake dheweke kerep ijenan ana ngomah. Kalodhangan kuwi digunakake saapik-apike dening salah sijine jaka kono sing aran Bas. Bas umure luwih enom lan luwih bregas. Bocah lanang kuwi pancen pinter ngrayu. Dhasar imane kurang kuwat, Mariyem mlayu karo Bas menyang Lampung. Bandha pawewehe Pak Sinder samono akehe ditinggal sebrung ora diurusi. Embuh parane menyang endi ora ana sing ngerti. Pak Sinder dhewe, rumangsa dikhiyanati banjur mati ngenes. Teka tanah Lampung Sumatra ora ana sing ngerti kepriye uripe wong sakloron. Ngerti-ngerti Mbok Miatun meruhi Bas mulih dhewe. Sebab Mariyem wis direbut juragan kopi sugih ing Lampung. Sawetara wektu Mariyem uga nusul bali menyang Banaran. Ananging Mariyem sing saiki beda karo nalika budhal biyen. Dheweke bali saka Lampung ing kahanan stress lan ngengleng. Ora wurunga sing kepothokan Mbok Miatun minangka adhine wedok. Digolekake wong tuwa lan dhukun prasasat tepung gelang ora ana sudane. Ujare wong tuwa sing nambani padha: larane digawe uwong! “Olehku nggolek-nggolekne mbakyu ipe wis tekan endi-endi. Kabeh wong tuwa wangsulane padha. Yu Mariyem klambine dicolong marune dilebokake kuburan growong.
Mula ora bisa waras sakteruse,” ngono panuturane Mbah Kaelan sing ora kurang-kurang anggone nggolekake tamba. Dinane iki kahanane Mariyem utawa Mbok Jebrag memelas banget. Manggon ana omah asil swadayane tangga teparo ukuran 3 x 4 m utawa kira-kira sak ukurane pos kamling utawa toilet ing terminal bis kae. Jerone kaya susuh. Kuwi bae yen udan bocor amarga gendhenge sok disogoki dhewe. Senadyan ta kaya ngono, bab mangan dheweke ora gelem nampa pawewehe liyan. Saben dina Mbok Jebrag turut tegalan golek kayu rencekan utawa blarak. Kayu lan blarak sing digawe sapu sada kasebut ditawakake tangga teparo. Wujude ora mingsra. Ananging gandheng kabeh wis paham yen Jebrag ngono pikirane wis ora pati normal mula diijoli dhuwit. Nalika dum-duman dana BLT kepungkur Mbok Jebrag rada kangelan anggone nyairake danane amarga dheweke ora duwe KTP. Nalika arep difoto malah mlayu amarga wedi. Ature: Agus Prasmono JB 34/LX, 23-29 April 2006.

Katrangan:
Waosan menika ngandharaken jenising karangan argumentasi jenis induksi. Wonten waosan menika nyeritaaken bab lelakone mbok jebrag ingkang dados tokoh utami saking cerita menika lajeng dipun jlentrehaken dados paragraf salajengipun.

Sugeng Rawuh!

26 November 2007 oleh endhy

Since i’ve known you babe
You were a light for me
But there’s no yours sincerely
Build me a world to believe

But still there’s a doubt
in you for loving me
Though deep down inside
You see what’s in me

Be my lady be the one
and great things will come to our heart
you’re my lady you’re my one
give me chance to show you love